Cinta Itu Membunuhnya....
Pagi yang cerah, tapi topik pembicaraan hari itu tidak secerah cuaca.
Selasa pagi itu saya baru saja selesai jogging satu putaran di Lapangan Renon, sekalian mengantar dan menunggu anak saya yang masih olah raga. Setelah olah raga, saya akan langsung mengantarnya ke sekolah yang tidak terlalu jauh dari Lapangan Renon. Sambil menunggu, saya berdiri di pinggir lapangan sambil melakukan gerakan pendinginan. Seorang ibu yang juga menunggui anaknya menghampiri saya, kemudian kami ngobrol sebentar sekitar persoalan anak-anak sekolah. Kemudian seorang bapak ikut nimbrung diikuti oleh Bapak Tukang Parkir yang biasa bertugas di sana. Si Bapak bercerita bahwa dia lebih memilih mengantar dan menunggui anaknya olah raga daripada melepasnya naik kendaraan sendiri karena jarak rumahnya dan Lapangan Renon memang cukup jauh. Anaknya baru kelas tiga SMP. Bapak Tukang Parkir juga ikut urun suara bercerita betapa kacaunya lalu lintas sekarang.Ketika sedang ngobrol, tiba-tiba terdengar teriakan dari pinggir jalan di seberang kami berdiri.
"Tolooong... tolongggg!" teriakan seorang perempuan.
Seketika kami semua menoleh ke sumber suara itu, begitu juga orang-orang lain yang mendengarnya. Saya melihat seorang perempuan naik sepeda motor dipepet oleh seorang laki-laki yang juga naik motor, sehingga motor si gadis tidak bisa bergerak. Beberapa orang laki-laki termasuk Bapak Tukang Parkir dengan segera menghampiri mereka berdua. Tadinya saya pikir si gadis dijambret atau dirampok, walaupun agak heran karena perampokan dilakukan di tempat umum di depan begitu banyak orang. Ternyata dugaan saya salah. Rupanya mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar, tadinya mereka sudah bicara di suatu tempat dan si gadis ingin putus dari pacarnya. Si pemuda tidak ingin putus dan mengejar si gadis, karena si gadis tidak mau berhenti, maka dipepetlah motornya oleh si pemuda. Karena dipepet si gadis berteriak minta tolong. Oh, ya, ampunnn! Setelah tahu duduk permasalahannya, orang-orang yang mengerumuni mereka pun bubar kembali. Kami kembali melanjutkan obrolan. Mungkin karena terbawa oleh peristiwa tadi, obrolan kami adalah tentang hubungan dua orang yang bermasalah. Topik yang menyedihkan. "Saya kemarin baru datang dari kampung menghadiri upacara ngaben warga desa yang bunuh diri," kata Bapak yang punya anak SMP itu.
"Bunuh diri? Bunuh diri kenapa?" saya selalu shock setiap mendengar berita/cerita bunuh diri. Membayangkan betapa gelap jalan yang dilihatnya sehingga 'berani' memutuskan bunuh diri (atau pengecut karena lari dari kenyataan?)