Membalas Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah?

"Cara terbaik untuk membalas orang yang menjahati kita adalah dengan berbuat baik kepadanya." Kalimat ini saya baca di sebuah status FB yang ditulis oleh salah satu keponakan saya, si jelita Mahadewi. Perempuan ini aslinya memang cantik jelita (menurun dari sang bunda) sehingga tidak rugi orangtuanya memberi nama Mahadewi. Walaupun statusnya sebagai keponakan, umurnya tidak terlalu jauh beda dengan saya. Sepintas anjuran status ini kelihatannya sangat tidak mungkin untuk dilaksanakan. Bagaimana bisa? Seseorang yang telah berbuat jahat, lalu kita membalasnya dengan kebaikan? Tetapi ada sebuah pepatah yang mendukung kalimat itu: "Dilempari tahi dibalas dengan melempar bunga". Adakah yang sanggup seperti itu? Saya tahu, Mahadewi ini adalah pelaku yoga dan meditasi, ditambah lagi orangnya memang berkarakter lembut tapi tegas.

Saya yakin benar, apa yang ditulisnya di FB tersebut bukan asal nulis dan bukan sekadar ungkapan kosong. Saya juga yakin itu adalah salah satu nasehat ibundanya yang berasal dari kalangan ningrat. Saya tahu persis, ibunya pernah beberapa kali terpuruk mengalami tekanan mental karena disakiti oleh orang yang masih kerabat dekatnya. Tetapi setelah sekian kali mengalami hal-hal yang menyakitkan, akhirnya sang bunda bangkit dan menjadi sosok yang tegar. Anehnya, setelah segala yang dialaminya, perempuan ini tumbuh menjadi orang yang sangat pemurah dan baik hati. Semua 'musuh-musuhnya' dirangkul dan yang memerlukan bantuan materi dibantunya dengan maksimal. Semua yang dilakukannya betul-betul tanpa pamrih dan tanpa tendensi apa pun, kecuali hanya ingin berbuat baik. "Manusia langka," pikir saya. Saya sendiri sangat salut dan belajar banyak darinya. Dalam setiap kesempatan ngobrol dengannya, dia selalu menceritakan apa yang telah dialami dalam hidupnya dan bagaimana cara menyikapinya. Sikapnya itu benar-benar membuat saya amat terkesan.  Saya bisa merasakan kebahagiaan batin yang dirasakannya kini.

Kembali ke laptop, eh, maksud saya kembali ke kalimat status FB tersebut, saya sendiri sangat setuju. Saya juga pernah mengalami pasang surut kehidupan dan yang paling berat saya rasakan adalah ketika mendapat fitnah keji dari... seorang sahabat yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri! Fitnah tersebut berefek luar biasa bagi kehidupan saya. Orang terdekat saya termakan oleh fitnah tersebut. Saya butuh waktu sangat lama untuk menenteramkan diri dan mencari kekuatan hanya kepada Tuhan. Saya sadar, Tuhan tahu persis bagaimana diri saya yang sebenarnya. Saat itu perasaan saya diliputi oleh rasa marah, sedih, dendam, kecewa, terluka dan semua perasaan negatif lainnya bercampur aduk. Kondisi fisik ikut menurun berat badan saya menurun drastis. Syukurnya, dalam kecamuk perasaan yang campur aduk tersebut, saya punya keyakinan bahwa Tuhan akan turun tangan pada saat yang tepat pada saat saya tidak kuat lagi menanggung semuanya. Saya menghibur diri bahwa Tuhan hanya sedang menguji dan "bermain-main" dengan saya.

Pelan-pelan saya menata diri, berdamai dengan perasaan sendiri, meredakan amarah dan berusaha memaafkan orang-orang yang telah menyakiti saya. Saya berusaha mengalihkan energi negatif (marah, sedih, dendam, dan sebangsanya) dengan beraktivitas positif sebanyak mungkin. Saya berlatih main musik (saya suka musik), berlatih vokal, lebih fokus lagi pada kuliah, lebih banyak membaca dan melakukan apa saja yang membuat saya lebih tenang. Tuhan Maha Baik. Banyak hikmah yang saya dapatkan di balik peristiwa menyakitkan itu. Kini, saya bisa memaafkan orang terdekat saya, bisa berbuat dan bersikap baik (seperti pesan dalam status FB di atas), tetapi tidak (belum) bisa memaafkan 'sahabat' yang bagai ular berkepala dua itu. Walau demikian, tidak ada lagi perasaan amarah yang membara dalam hati. Saya sudah menyerahkan dan menumpahkan semuanya kepada Tuhan. Saya percaya Hukum Karma Phala. Setelah berhasil berdamai dengan diri sendiri, dan semakin tenang, berat badan saya pun berangsur-angsur naik lagi. Sudah bisa ceria lagi. Sekarang, perkataan orang yang paling membahagiakan adalah: "Wah, sekarang sudah tambah gemuk nih". :D
| Viewed
times

0 Comments

Leave a comment...