Me, Around Me and Friends http://desak.posterous.com Most recent posts at Me, Around Me and Friends posterous.com Mon, 21 May 2012 02:54:00 -0700 KADO ULANG TAHUN YANG KE DELAPAN BELAS http://desak.posterous.com/kado-ulang-tahun-yang-ke-delapan-belas http://desak.posterous.com/kado-ulang-tahun-yang-ke-delapan-belas

Bulan Mei ini, anak saya memasuki usia delapan belas tahun. Sebuah usia yang menapak dewasa. Dalam usianya ini, sebagai orang tua saya harus makin pintar menempatkan diri, tidak hanya sebagai orang tua tapi juga sebagai teman  yang tepercaya dalam segala hal. Satu hal yang tidak akan pernah saya lakukan adalah mendikte dan memaksakan kehendak.

Ulang tahun kali ini ia memperoleh kado terindah:   mendapat kesempatan  sebagai editor freelance (sesuai  keinginannya) di sebuah website pariwisata berbahasa Inggris, setelah mengikuti tes dan dinyatakan lulus.

Wah, senangnya tidak terkira karena jenis pekerjaan seperti inilah yang diinginkannya. Terutama karena sangat sesuai dengan hobinya yaitu online dan Bahasa Inggris. Dia memang ingin mempunyai kegiatan untuk mengisi waktu libur yang panjangnya berbulan-bulan sebelum perkuliahan efektif dimulai. “Kegiatan yang menyenangkan dan menghasilkan uang, Bu, tapi bisa dikerjakan di rumah.” Itu katanya. :-) 

Sebenarnya  sudah  agak lama dia mengejar-ngejar saya agar mencarikan informasi tentang pekerjaan yang seperti ini. Saya janji, setelah selesai pelaksanaan UAS dan UAN akan saya carikan informasi. Beberapa hari setelah selesai UAS dan UAN, saya mendapat  informasi tentang lowongan editor freelance  ini.  Tugas utamanya adalah menyunting artikel sebelum diposting di website. Kalau dirasa perlu, artikel itu boleh ditulis ulang  asalkan tidak mengubah isinya.

Saya menyampaikan informasi tersebut pada anak, apakah dia berminat?

“Berminat banget!” jawabnya antusias.

“Nah, kalau begitu silakan buka tautan ini, semua persyaratan ada di situ termasuk cara pendaftarannya.”

Saya pun memberinya sebuah tautan, langkah-langkah selanjutnya dia lakukan sendiri.

Setelah melakukan registrasi, dan mengikuti tes, singkat kata dia dinyatakan lulus dan layak sebagai editor di website tersebut.  Mulailah hari-harinya sebagai pekerja freelance.  Saya menganggap pekerjaannya ini sebagai ajang melatih disiplin dan mengatur waktu. Mau tidak mau dia  jadi lebih bertanggung jawab, terutama dalam pengelolaan waktu. Setelah UAN, praktis tidak ada lagi kegiatan di sekolahnya, tetapi kegiatan belajar tetap ada untuk persiapan masuk perguruan tinggi. Dia ikut les intensif setiap hari dari jam sembilan sampai jam sebelas. Setelah itu dia mengatur waktunya sendiri agar semua kegiatannya bisa berjalan. Dia sendiri menentukan target berapa artikel yang harus diselesaikan dalam sehari. Mengatur jadwal untuk kumpul-kumpul atau jalan-jalan dengan gang-nya, dan tetap ingat dengan tugas-tugas  rumah tangga yang biasa dikerjakannya.

Walaupun anak tunggal, saya tidak pernah memanjakannya secara berlebihan.  Justru karena anak tunggallah saya harus benar-benar mempersiapkan mentalnya untuk menghadapi kehidupan yang makin tidak mudah ini.  Karena tidak punya saudara kandung tempatnya bergantung, walaupun sepupu-sepupunya sangat menyayangi dan memerhatikannya. Saya ingin dia terbiasa ringan tangan, tidak canggung mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Cepat atau lambat, dia akan berpisah dengan orang tuanya dan membangun rumah tangga sendiri. Bila saat itu tiba, dia tidak akan kaget lagi. Untuk itulah saya berusaha mendidiknya dengan sebaik mungkin, dengan tetap bisa menikmati  masa-masa remajanya yang indah.

Saya bersyukur Tuhan menganugerahkan seorang putri yang baik  dan taat  pada orang tuanya. Terima kasih, Tuhan. Semoga Engkau selalu menjaganya dan mengabulkan segala cita-citanya. Amin.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Fri, 24 Feb 2012 06:29:00 -0800 LAGI, PENIPUAN BARU http://desak.posterous.com/104823597 http://desak.posterous.com/104823597

Jaman sekarang  ada banyak jenis penipuan yang menggunakan ponsel. Terakhir yang marak adalah penipuan lewat SMS yang berisi agar mengirim pulsa segera ke sebuah nomor ponsel dengan alasan yang beragam. Ada yang mengaku sebagai “Mama”, kemudian “Papa” yang sedang berurusan di kantor polisi. Terakhir yang saya terima adalah SMS yang berisi: “Tolong uangnya transfer segera ke nomor rekening XXXXX atas nama YYYYY. Segera ya, ditunggu.” Saya beberapa kali menerima SMS seperti itu, tetapi tidak pernah saya pikirkan, langsung tekan tombol ‘hapus’ saja.

Kemarin ada penipuan yang baru saya dengar yaitu seseorang menelpon ke telpon rumah (bukan ke ponsel) dan si penerima telepon disuruh mengirim sejumlah uang ke rekening seseorang. Saya cukup terkejut karena si calon korban ini adalah kakak ipar saya sendiri. 

Hari itu, siang hari, ada seseorang yang menelepon ke rumahnya, kebetulan siang itu dia seorang diri di rumah. Istrinya sedang keluar rumah dan kedua putrinya yang sudah remaja sedang bekerja. Terjadi percakapan telepon sebagai berikut:

“Selamat siang, Pak”

“Selamat siang, Pak… saya mau mengabarkan bahwa putri Bapak sedang berada di Rumah Sakit Sanglah.”

Kakak ipar langsung kaget. “Anak saya yang mana, kenapa??”

“Anak Bapak jatuh dari tangga dan segera dilarikan ke rumah sakit, saya lupa namanya… siapa tadi…mm….”

“Intan? Anak saya, Intan? Jatuh lagi??” Kakak ipar tambah shock dan panik sebab dulu putrinya ini pernah jatuh di tangga kantornya karena terpeleset, tetapi tidak ada luka yang serius. 

“Betul, Pak. Iya, putri Bapak yang bernama Intan. Kondisinya cukup parah, saya perlu dana segera untuk bisa membantunya, kalau tidak putri Bapak tidak tertolong.”

Kakak ipar tambah panik, akal sehatnya hilang sudah. Dalam kebingungan dan kepanikannya dia mendengarkan semua instruksi yang diberikan oleh si penelepon. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal: kalau uang tidak segera ditransfer dalam waktu lima belas menit sejumlah sepuluh juta lima ratus rupiah, seperti yang diminta oleh orang itu, maka putrinya tidak akan tertolong. 

Setelah menutup telepon, dia langsung menelepon Intan, tidak diangkat. Berulang kali dicoba, tetap tidak diangkat. Pikirannya makin panik, seperti robot dia buru-buru pergi ke ATM untuk bersiap mengirim uang.  Sampai di ATM, dia bingung bagaimana caranya mentransfer uang lewat ATM karena selama ini tak sekali pun ia pernah menggunakan fitur transfer di ATM, juga fitur-fitur lainnya. Kartu ATM yang dimilikinya selama ini hanya digunakan untuk menarik tunai saja.  Hanya itu. Karenanya, dia langsung bergegas ke Bank, dengan fokus pikiran: UANG HARUS SEGERA DIKIRIM!

Sampai di Bank terjadi percakapan:

“Bu, saya mau mengirim uang,” kata kakak ipar dengan nada panik, dia takut waktu lima belas menit yang diberikan oleh orang itu sudah lewat.

“Buku tabungannya mana, Pak?” tanya petugas Bank dengan agak heran melihat mimik wajah kakak ipar.

“Saya buru-buru, Bu, saya tidak sempat mengambil buku tabungan. Tolong pakai kartu ATM saya saja. Cepatlah.“ jawabnya.

Petugas Bank mulai melihat ada yang tidak beres, kemudian bertanya lebih lanjut. Kakak ipar pun menjawab bahwa dia disuruh segera mengirim uang sejumlah sepuluh juta lima ratus ribu untuk menyelamatkan putrinya.

Akhirnya petugas Bank mafhum apa yang telah terjadi.

“Bapak, jangan percaya dengan telepon gelap seperti itu. Itu penipuan, Pak. Bapak mungkin juga sudah dihipnotis lewat suara tadi.” Kata petugas Bank dengan sabar.

Kakak ipar tersadar seketika. Dia seperti baru bangun, dan sangat bersyukur bisa terhindar dari penipuan itu. Berlakangan baru diketahui bahwa saat itu Intan sedang rapat penting masalah keuangan di kantornya dan ponselnya ditinggal di ruang kerjanya karena dia tidak ingin terganggu oleh ponsel ketika sedang rapat dengan beberapa atasannya. 

Dari kejadian itu ada hal yang membuat saya berpikir cukup keras.

1. Si penelpon sepertinya tahu bahwa Intan pernah jatuh di tangga

2. Si penelpon juga tahu bahwa Intan saat itu tidak akan bisa dihubungi lewat telepon/ponsel karena yang bersangkutan sedang rapat penting di kantornya. 

3. Si penelepon seolah-olah tahu bahwa Intan ini dulunya memang sedikit lemah dan sering sakit, dan ini berhasil membuat ayahnya makin yakin.

Adakah semua itu hanya kebetulan belaka?

Di satu sisi saya melihat ada untungnya juga kakak ipar saya ini agak “gaptek” dalam menggunakan kartu ATM, sehingga dia tidak bisa langsung main transfer saja. Kalau tidak, bisa dipastikan uang sepuluh juta lima ratus rupiah itu pasti sudah melayang ke rekening si penipu. Bukan dengan ATM saja kakak ipar gaptek, tapi dalam menggunakan ponsel pun dia hanya mengerti menggunakan SMS, menelpon dan menerima telpon. Selebihnya tidak. Kali ini ketidaktahuan dan ‘gaptek’-nya telah menyelamatkannya. 

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Mon, 06 Feb 2012 01:06:00 -0800 Angka Kembar http://desak.posterous.com/angka-kembar http://desak.posterous.com/angka-kembar
Hampir setiap hari saya bertemu dengan angka kembar, berkali-kali. Melihat jam di laptop: 6.66, melihat HP terlihat angka (jam): 2.22. Saat menerjemahkan, melihat jumlah kata: 19999 kata. Ketika ngetik sebuah artikel, dan ngecek jumlah kata: 444.

Esoknya begitu lagi, terulang kembali, de javu. Ketika membuka google plus, jumlah teman di circle: 55. Melirik jam di PC: 5.55. Begitu hampir setiap hari. Saat baru bangun di pagi buta, melihat jam: 5.05. Melihat jumlah teman di FB: 333. Selalu begitu. Jadi bertanya-tanya, apakah ada artinya? Atau hanya kebetulan saja? Kebetukan kok berkali-kali. :D

Ada yang tahu ngga ya, kira-kira artinya apa? Takhyul? Hehehe.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Mon, 12 Dec 2011 04:45:00 -0800 Cinta Itu Membunuhnya.... http://desak.posterous.com/cinta-itu-membunuhnya http://desak.posterous.com/cinta-itu-membunuhnya

Pagi yang cerah, tapi topik pembicaraan hari itu tidak secerah cuaca.

Selasa pagi itu saya baru saja selesai jogging satu putaran di Lapangan Renon, sekalian mengantar dan menunggu anak saya yang masih olah raga. Setelah olah raga, saya akan langsung mengantarnya ke sekolah yang tidak terlalu jauh dari Lapangan Renon. Sambil menunggu, saya berdiri di pinggir lapangan sambil melakukan gerakan pendinginan. Seorang ibu yang juga menunggui anaknya menghampiri saya, kemudian kami ngobrol sebentar sekitar persoalan anak-anak sekolah. Kemudian seorang bapak ikut nimbrung diikuti oleh Bapak Tukang Parkir yang biasa bertugas di sana. Si Bapak bercerita bahwa dia lebih memilih mengantar dan menunggui anaknya  olah raga daripada melepasnya naik kendaraan sendiri karena jarak rumahnya dan Lapangan Renon memang cukup jauh. Anaknya baru kelas tiga SMP. Bapak Tukang Parkir juga ikut urun suara bercerita betapa kacaunya lalu lintas sekarang. 

Ketika sedang ngobrol, tiba-tiba terdengar teriakan dari pinggir jalan di seberang kami berdiri.

"Tolooong... tolongggg!" teriakan seorang perempuan.

Seketika kami semua menoleh ke sumber suara itu, begitu juga orang-orang lain yang mendengarnya. Saya melihat seorang perempuan naik sepeda motor dipepet oleh seorang laki-laki yang juga naik motor, sehingga motor si gadis tidak bisa bergerak. Beberapa orang laki-laki termasuk Bapak Tukang Parkir dengan segera menghampiri mereka berdua. Tadinya saya pikir si gadis dijambret atau dirampok, walaupun agak heran karena perampokan dilakukan di tempat umum di depan begitu banyak orang. Ternyata dugaan saya salah. Rupanya mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang bertengkar,  tadinya mereka sudah bicara di suatu tempat dan si gadis ingin putus dari pacarnya. Si pemuda tidak ingin putus dan mengejar si gadis, karena si gadis tidak mau berhenti, maka dipepetlah motornya oleh si pemuda. Karena dipepet si gadis berteriak minta tolong. Oh, ya, ampunnn!

Setelah tahu duduk permasalahannya, orang-orang yang mengerumuni mereka pun bubar kembali. Kami kembali melanjutkan obrolan. Mungkin karena terbawa oleh peristiwa tadi, obrolan kami adalah tentang hubungan dua orang yang bermasalah. Topik yang menyedihkan.

"Saya kemarin baru datang dari kampung menghadiri upacara ngaben warga desa yang bunuh diri,"  kata Bapak yang punya anak SMP itu.


"Bunuh diri? Bunuh diri kenapa?" saya selalu shock setiap mendengar berita/cerita bunuh diri. Membayangkan betapa gelap jalan yang dilihatnya sehingga 'berani'  memutuskan bunuh diri (atau pengecut karena lari dari kenyataan?)

Si Bapak itu kemudian bercerita. Ada sepasang kekasih yang sudah pacaran lama, dan awalnya tidak ada masalah karena kedua belah pihak orang tua sama-sama menyetujui hubungan mereka. Kemudian si pemuda ingin meresmikan hubungannya dengan menikahi si gadis.  Tetapi entah apa sebabnya, tiba-tiba orang tua si pemuda tidak setuju dan menyuruhnya memutuskan hubungan dengan si gadis. Si pemuda kaget dan tidak menduga respon orang tuanya seperti itu. Dia berusaha meyakinkan orang tuanya, berhari-hari membujuk mereka agar mau menikahkannya dengan si gadis. Tapi orang tuanya tetap pada pendiriannya. Setelah sekian lama, si pemuda mulai putus asa.

Akhirnya si pemuda dan si gadis memutuskan bunuh diri bersama, dengan minum racun serangga! Si pemuda meninggal duluan, kemudian tidak lama diikuti oleh si gadis. Hebohlah desa itu. Orang tua si gadis tidak bisa menerima kenyataan tersebut dan menuntut orang tua si pemuda dan menganggap merekalah  penyebab peristiwa bunuh diri itu. Orang tua si pemuda sangat menyesali sikapnya, kehilangan anak dan menghadapi tuntutan dari orang tua si gadis. Tapi nasi telah menjadi bubur, dan bubur tidak pernah bisa menjadi nasi kembali.

Miris. Cinta itu telah membunuh mereka :(

Mendengar cerita ini saya ingat dengan seorang teman yang sedang mempunyai masalah hampir sama yaitu tidak (belum) mendapat restu untuk menikah dari orang tua masing-masing.  Mereka akan direstui menikah tapi dengan syarat. Syarat inilah yang menjadi masalah, karena orang tua si gadis dan si pemuda mempunyai syarat yang bertentangan satu sama lainnya, dan sampai saat ini belum menemukan titik temu. Saya tahu si pemuda sudah hampir putus asa. Mudah-mudahan mereka membaca tulisan ini. Pesan saya: jangan pernah mengambil jalan pintas. Percayalah, Tuhan tidak pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umat-Nya asal kita mau bersabar. Klise? Mungkin. Tapi yakinilah, sudah terbukti.


Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Thu, 01 Dec 2011 01:37:00 -0800 Alarm Otomatis http://desak.posterous.com/alarm-otomatis http://desak.posterous.com/alarm-otomatis

Ada sebuah "kelebihan" yang saya miliki yang membuat anak saya iri dan ingin sekali memiliki kelebihan seperti itu. Kelebihan itu adalah saya punya "alarm otomatis" yang bisa diatur sesuka saya, yang berhubungan dengan jam bangun tidur. Saya tidak membutuhkan jam weker atau alarm-alarm lainnya untuk membangunkan saya. Saya hanya butuh bantuan bantal saja :D. Misalnya saya ingin bangun jam empat pagi untuk suatu keperluan, maka saya cukup berkata dalam hati: "Wahai bantal, tolong bangunkan saya jam empat pagi, karena saya harus mengerjakan bla... bla... bla...." Maka, esok paginya saya pasti terbangun jam empat teng. Tidak kurang tidak lebih. Kemudian kalau esoknya saya tidak butuh bangun jam empat, tapi ingin bangun jam lima, maka saya pun mengucapkan "mantra" yang sama dan hanya mengganti jam bangun yang diinginkan saja.

Hal itu berlaku untuk tidur siang atau tidur malam. Saya memang tidak terbiasa tidur siang, tapi adakalanya tubuh terasa capek dan tiba-tiba ngantuk sekali. Kalau sudah demikian saya akan tidur sebentar dan tak lupa mengucapkan: "Wahai bantal, tolong bangunkan saya lima belas menit lagi karena saya tidak ingin tidur terlalu lama." Hasilnya? Lima belas menit kemudian saya seketika terbangun, dengan kondisi segar, tidak bangun terpaksa.

Anak saya ingin sekali bisa seperti itu agar bisa "mengendalikan hobi tidurnya" :D. Setiap tidur siang, dia susah sekali bangun, akhirnya selalu bangun kemalaman karena tidak pernah bisa tidur dibawah dua jam. Saya sudah memberikan "ilmunya" tapi ternyata tidak mempan!

Dia bilang: "Ibu aneh, kok bisa sih seperti itu?" Aneh? Tidak juga. Setiap orang pasti bisa seperti itu. Kuncinya terletak pada pengaturan pikiran dan niat. Saya yakin pikiran itu berkuasa atas tubuh kita. Saya tinggal mengatur pikiran saja, maka selanjutnya pikiran itu akan mengatur tubuh kita, iya kan? Tidak percaya? Silakan dicoba :D

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Wed, 09 Nov 2011 23:11:00 -0800 Suatu Pagi di Lapangan Renon Denpasar http://desak.posterous.com/suatu-pagi-di-lapangan-renon http://desak.posterous.com/suatu-pagi-di-lapangan-renon

Hari itu saya mengantar anak olah raga di lapangan Renon, karena setelah olah raga langsung ke sekolah, saya menungguinya. Sambil nunggu saya ikut olah raga. Lumayan, dapat lari (tepatnya: jalan cepat) dua kali putaran. Setelah capek, saya istirahat ke pinggir lapangan dan ngobrol dengan Bapak Tukang Parkir yang juga sedang santai, karena anak-anak sekolah yang sedang olah raga  belum bubaran.

Setelah basa-basi sejenak, saya membuka obrolan dengan menanyakan di mana lokasi kejadian kecelakaan kemarin subuh yang menewaskan dua orang pelajar SMP. Sebelumnya saya sudah mendengar berita bahwa kemarinnya terjadi kecelakaan tunggal yang mengenaskan di dekat lapangan Renon ini. Sebuah mobil yang ditumpangi oleh tiga siswa SMP, menabrak pohon pelindung di pinggir jalan dengan kecepatan tinggi. Badan mobil terpotong jadi dua bagian, dan dua penumpangnya yang duduk di depan (termasuk yang menyetir)  meninggal seketika. Yang satu lagi duduk di jok belakang selamat dan masih terikat erat sabuk pengaman, luka-luka tapi tidak terlalu parah. Sebuah keajaiban.

"Lokasinya di sebelah sana, Bu. Tadi ibu mungkin melewatinya, tapi tidak ngeh ya karena memang tidak ada kerusakan yang berarti di pohon itu.", kata Bapak itu sambil menunjuk ke sebuah arah. Menurut Bapak itu, di TKP tidak kelihatan tanda-tanda bahwa pernah ada kecelakaan mengerikan di sana.

Saat itu saya terbayang dengan perasaan duka mendalam yang dirasakan oleh orang tua ke dua anak itu. Di tengah percakapan kami, ada dua orang lagi yang juga sedang menunggui anaknya ikut nimbrung. Percakapan makin ramai dan sebagian besar menyesalkan sang orang tua yang memberikan kebebasan kepada anaknya yang baru duduk di bangku SMP untuk membawa mobil. Semua pihak termasuk pihak berwenang sangat menyayangkan dan menyesali kejadian ini. Seperti dimuat di beberapa media, diberitakan bahwa si pengendara mobil duduk di kelas III di sebuah SMP favorit dan rencananya beberapa hari ke depan akan berangkat ke Singapura untuk pertukaran pelajar. Di sekolahnya anak itu memang dikenal cerdas dan supel.  Menurut berita yang beredar, sebenarnya anak itu sudah cukup lama bisa nyetir, dan sudah biasa nyetir, tetapi mobil yang biasa dibawanya adalah Alphard. Sedangkan mobil yang dikendarainya saat kejadian adalah mobil matic (kalau tidak salah Suzuki), milik temannya. Diduga, dia tidak biasa membawa mobil matic yang ringan sehingga lepas kontrol.
Saat kejadian orang tuanya sedang berada di luar negeri untuk urusan pekerjaan, dan beberapa jam sebelum kejadian si anak dan orangtuanya sempat telpon-telponan. Sebagai orang tua, saya tak mampu membayangkan bagaimana hancur perasaan orang tua anak itu. Saya hanya bisa berdoa dalam hati semoga orang tua dan keluarganya diberikan ketabahan yang luar biasa, dan si anak diberikan ketenangan di sisi-Nya.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sun, 16 Oct 2011 05:08:00 -0700 Jangan Dibunuh! http://desak.posterous.com/jangan-dibunuh http://desak.posterous.com/jangan-dibunuh

Ini kejadian lucu yang sebagian orang mungkin menganggap cerita ini berlebihan. Tapi begitulah adanya. Suatu hari, Sabtu sore saya habis menggoreng sesuatu, karena esoknya hari Minggu, saya tidak langsung mencuci penggorengan tersebut. Pikir saya, besok aja deh, toh besok hari Minggu, bisa bangun agak siang.

Nah, besok paginya, saya ke dapur dan bersiap-siap untuk membuat sarapan. Saya bermaksud mencuci penggorengan dulu, tapi... ternyata ada seekor tikus di dalamnya. Tikus kecil, yang tampaknya baru tumbuh besar :-)

Lama saya menatapnya, kami beradu pandang. Karena penggorengannya licin bekas minyak, si tikus tidak bisa lari, walaupun dia berusaha keras untuk melarikan diri. Alhasil, dia hanya bisa lari di tempat seperti manusia yang lari di threadmill. Kalau mau saya bisa membunuhnya dengan mudah, tapi saya tidak tega, apalagi melihat sinar matanya yang seperti memohon. Dia tetap lari di tempat dan tetap menatap saya, kelihatan amat lucu. Saya memanggil anak saya untuk menunjukkan pemandangan lucu ini.  Saya tidak berani memanggil suami, karena besar kemungkinan tikus ini pasti akan dibunuhnya (walaupun itu sangat masuk akal). Anak saya bergegas datang, dan begitu melihatnya, anak saya langsung bilang: 

"Jangan dibunuh! Jangan dibunuh, Bu, please...."
"Lha, terus mau diapain? Mau dipelihara?," kata saya sambil menahan geli, dan saya sendiri memang tidak yakin sanggup membunuhnya.
"Yaah, ngga gitu sih, Bu. Tapi kan kasihan."
"Iya, tapi ini mau diapain?"
"Buang aja, Bu. Tapi Ibu ngga boleh membunuhnya!"

Saya setuju. Saya pun mengangkat penggorengan itu dan membawanya ke depan rumah. Sampai di depan, saya membalik penggorengan tersebut dan si tikus seketika lari menuju rerumputan di seberang jalan, tapi masih sempat menoleh saya, seakan-akan mengucapkan terima kasih, hehehe.
Selamat jalan, tikus kecil. Jangan balik-balik lagi ke rumah saya yaa :D

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sun, 17 Jul 2011 03:12:00 -0700 Membalas Kejahatan dengan Kebaikan, Mungkinkah? http://desak.posterous.com/membalas-kejahatan-dengan-kebaikan-mungkinkah http://desak.posterous.com/membalas-kejahatan-dengan-kebaikan-mungkinkah
"Cara terbaik untuk membalas orang yang menjahati kita adalah dengan berbuat baik kepadanya." Kalimat ini saya baca di sebuah status FB yang ditulis oleh salah satu keponakan saya, si jelita Mahadewi. Perempuan ini aslinya memang cantik jelita (menurun dari sang bunda) sehingga tidak rugi orangtuanya memberi nama Mahadewi. Walaupun statusnya sebagai keponakan, umurnya tidak terlalu jauh beda dengan saya. Sepintas anjuran status ini kelihatannya sangat tidak mungkin untuk dilaksanakan. Bagaimana bisa? Seseorang yang telah berbuat jahat, lalu kita membalasnya dengan kebaikan? Tetapi ada sebuah pepatah yang mendukung kalimat itu: "Dilempari tahi dibalas dengan melempar bunga". Adakah yang sanggup seperti itu? Saya tahu, Mahadewi ini adalah pelaku yoga dan meditasi, ditambah lagi orangnya memang berkarakter lembut tapi tegas.

Saya yakin benar, apa yang ditulisnya di FB tersebut bukan asal nulis dan bukan sekadar ungkapan kosong. Saya juga yakin itu adalah salah satu nasehat ibundanya yang berasal dari kalangan ningrat. Saya tahu persis, ibunya pernah beberapa kali terpuruk mengalami tekanan mental karena disakiti oleh orang yang masih kerabat dekatnya. Tetapi setelah sekian kali mengalami hal-hal yang menyakitkan, akhirnya sang bunda bangkit dan menjadi sosok yang tegar. Anehnya, setelah segala yang dialaminya, perempuan ini tumbuh menjadi orang yang sangat pemurah dan baik hati. Semua 'musuh-musuhnya' dirangkul dan yang memerlukan bantuan materi dibantunya dengan maksimal. Semua yang dilakukannya betul-betul tanpa pamrih dan tanpa tendensi apa pun, kecuali hanya ingin berbuat baik. "Manusia langka," pikir saya. Saya sendiri sangat salut dan belajar banyak darinya. Dalam setiap kesempatan ngobrol dengannya, dia selalu menceritakan apa yang telah dialami dalam hidupnya dan bagaimana cara menyikapinya. Sikapnya itu benar-benar membuat saya amat terkesan.  Saya bisa merasakan kebahagiaan batin yang dirasakannya kini.

Kembali ke laptop, eh, maksud saya kembali ke kalimat status FB tersebut, saya sendiri sangat setuju. Saya juga pernah mengalami pasang surut kehidupan dan yang paling berat saya rasakan adalah ketika mendapat fitnah keji dari... seorang sahabat yang sudah saya anggap sebagai saudara sendiri! Fitnah tersebut berefek luar biasa bagi kehidupan saya. Orang terdekat saya termakan oleh fitnah tersebut. Saya butuh waktu sangat lama untuk menenteramkan diri dan mencari kekuatan hanya kepada Tuhan. Saya sadar, Tuhan tahu persis bagaimana diri saya yang sebenarnya. Saat itu perasaan saya diliputi oleh rasa marah, sedih, dendam, kecewa, terluka dan semua perasaan negatif lainnya bercampur aduk. Kondisi fisik ikut menurun berat badan saya menurun drastis. Syukurnya, dalam kecamuk perasaan yang campur aduk tersebut, saya punya keyakinan bahwa Tuhan akan turun tangan pada saat yang tepat pada saat saya tidak kuat lagi menanggung semuanya. Saya menghibur diri bahwa Tuhan hanya sedang menguji dan "bermain-main" dengan saya.

Pelan-pelan saya menata diri, berdamai dengan perasaan sendiri, meredakan amarah dan berusaha memaafkan orang-orang yang telah menyakiti saya. Saya berusaha mengalihkan energi negatif (marah, sedih, dendam, dan sebangsanya) dengan beraktivitas positif sebanyak mungkin. Saya berlatih main musik (saya suka musik), berlatih vokal, lebih fokus lagi pada kuliah, lebih banyak membaca dan melakukan apa saja yang membuat saya lebih tenang. Tuhan Maha Baik. Banyak hikmah yang saya dapatkan di balik peristiwa menyakitkan itu. Kini, saya bisa memaafkan orang terdekat saya, bisa berbuat dan bersikap baik (seperti pesan dalam status FB di atas), tetapi tidak (belum) bisa memaafkan 'sahabat' yang bagai ular berkepala dua itu. Walau demikian, tidak ada lagi perasaan amarah yang membara dalam hati. Saya sudah menyerahkan dan menumpahkan semuanya kepada Tuhan. Saya percaya Hukum Karma Phala. Setelah berhasil berdamai dengan diri sendiri, dan semakin tenang, berat badan saya pun berangsur-angsur naik lagi. Sudah bisa ceria lagi. Sekarang, perkataan orang yang paling membahagiakan adalah: "Wah, sekarang sudah tambah gemuk nih". :D

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sat, 16 Jul 2011 01:43:00 -0700 Penyesalan Selalu Datang Terlambat http://desak.posterous.com/penyesalan-selalu-datang-terlambat http://desak.posterous.com/penyesalan-selalu-datang-terlambat

Minggu lalu saya kedatangan teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Namanya Ngurah, dia datang bersama istrinya dan kami pun ngobrol lama, ngalor ngidul. Dia juga bercerita tentang tempat kerjanya sekarang. Saat ini dia bekerja dengan seorang dokter dalam suatu organisasi yang khusus menangani pasien HIV/AIDS, sehingga dia tahu persis berapa jumlah pasien HIV/AIDS seberapa parah kondisi para pasien tersebut, dan apa saja yang dilakukan oleh organisasi itu. Apa yang diceritakannya benar-benar membuat saya merinding dan tidak menduga situasinya sedemikian parah dan mengerikan. Cara penularannya amat mengerikan. Mungkin kita sering membaca baliho atau pamflet di jalan-jalan tentang bahaya HIV/AIDS yang mengancam. Tetapi mendengar langsung dari orang yang ikut berkecimpung di dalamnya benar-benar membuat saya menggigil karena merinding. Berikut adalah salah satu kisahnya.

***


Seorang mahasiswi yang berparas cantik memeriksakan dirinya ke dokter karena merasa badannya tidak enak. Oleh dokter yang memeriksanya, dia disarankan untuk cek darah lengkap karena dokter itu melihat ada sesuatu yang mencurigakan. Benar saja, setelah sekian kali konsultasi dan setelah memeriksa hasil cek darahnya secara mendalam, si gadis positif terjangkit HIV/AIDS. Bisa dibayangkan betapa syok gadis itu. Dia langsung berada di bawah pengawasan dokter dan organisasi tersebut. Konseling pun dilakukan bukan hanya untuk pengobatan tetapi terutama untuk persiapan mentalnya. Rupanya gadis ini tidak bisa menerima kondisi dirinya. Dia begitu dendam dan marah kepada pria yang menularinya. Dia merasa yakin dari siapa dirinya tertular. Dia ingat pernah beberapa kali melakukan hubungan intim dengan pacarnya yang juga teman kuliahnya. Kini dia sangat menyesali perbuatannya, tetapi... seperti biasa, penyesalan selalu datang terlambat. Diam-diam dia menyusun sebuah rencana, rencana yang amat mengerikan. Konselornya telah memberitahunya apa-apa yang tidak boleh dilakukan agar tidak menularkan virus HIV kepada orang lain. Tetapi... justru dia ingin melakukan semua yang dilarang tersebut!. Dia tahu dirinya tidak akan bertahan hidup lama.

Dia bertekad selama dirinya masih hidup dan masih bisa bergerak, dia akan mencari mangsa banyak pria. Mulailah dia menjalankan aksinya dengan semangat balas dendam. Dengan wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang seksi menggiurkan, tidak sulit baginya untuk menggaet laki-laki hidung belang. Dia pun "mengobral" dirinya murah-murah dan melakoni gaya hidup 'one night stand',  tidur dengan banyak laki-laki, baik teman kuliahnya ataupun laki-laki yang baru dikenalnya. Bisa dibayangkan, betapa cepatnya penularan virus tersebut. Bayangkan, kalau laki-laki yang telah 'tercemar' tersebut kemudian berhubungan dengan orang lain, dan seterusnya... dan seterusnya. Sampai akhirnya si gadis meninggal dunia, begitu banyak 'warisan' mengerikan yang ditinggalkannya. 

Waktu terus berjalan. Beberapa lama kemudian, dokter dan organisasi tempat Ngurah bekerja ini kebanjiran pasien yang terjangkit HIV... dan sebagian besar adalah mahasiswa yang berasal dari kampus si gadis di kota S.  Dari konseling yang penuh kesabaran, diketahuilah bahwa sebagian besar dari para pasien tersebut pernah berhubungan intim dengan almarhumah. Rupanya, si gadis berhasil menjalankan dendamnya. Tinggallah para korbannya yang kini menyesali diri penuh penderitaan, menunggu ajal menjemput. 
***

Ketika saya mendengarkan cerita tersebut, saya benar-benar terperangah, tidak bisa berkata-kata hanya: "Aduuh, masaaaa?" atau "Yang benar sajaaa?" atau "Seriusssss ini" dan sejenisnya. Saya hampir-hampir tidak memercayai cerita itu yang kedengaran seperti sebuah sinetron (walaupun saya tidak hobi nonton sinetron).  Ingin tidak percaya, tetapi berita di beberapa media massa tampaknya membenarkan cerita di atas.  Berita yang dilansir oleh harian Bali Post pun memperkuat kebenaran cerita tersebut.  

Menyedihkan dan sangat memprihatikan. Cerita ini merupakan sebuah pelajaran yang amat berharga bagi para lelaki agar tidak gampang tergoda oleh perempuan cantik. Ingat, penyesalan selalu datang terlambat.

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Fri, 08 Jul 2011 22:06:00 -0700 Tak Selalu Indah http://desak.posterous.com/tak-selalu-indah http://desak.posterous.com/tak-selalu-indah

Dunia internet menyisakan banyak cerita. Salah satu diantaranya adalah cerita di bawah ini. Semua tokoh yang ada dalam cerita ini adalah nyata. Kisah ini diceritakan oleh tokoh Harry kepada saya (Harry salah satu sahabat saya). Dan saya menceritakan kembali kisah mereka dengan bahasa sendiri, tetapi isinya sama sekali tidak ada modifikasi.

*****

Harry sudah mengambil keputusan. Tekadnya bulat sudah untuk  meninggalkan kota kelahirannya tercinta menuju kota kembang. Di kota ini ada Ayu gadis pujaannya, yang siap menjadi istrinya. Ada 2 keinginan terbesarnya menuju kota kembang adalah pertama untuk melamar dan menikahi Ayu serta kedua untuk melajutkan kuliahnya, yang tinggal penyesuaian saja dari D3 ke jenjang S1.

Sebenarnya di Medan, Harry sudah mempunyai pekerjaan yang mapan, dan hidup di tengah keluarga yang begitu mencintainya. Sebagai anak bungsu dari 8 bersaudara, Harry memang menjadi anak kesayangan. Tetapi hari ini Harry telah membuat kesal dan kecewa seluruh keluarganya, ketika dia mengutarakan niatnya untuk berhenti dari pekerjaannya dan pergi jauh.

Walau demikian, keputusannya telah bulat dan pasti, dia akan menemui Ayu, gadis yang telah membuatnya jatuh cinta, benar-benar jatuh cinta. Menyebut nama Ayu, membuat dadanya bergetar. Terbayang wajah Ayu yang lembut,  lugu dan manja, begitu imut dan menggemaskan. Jilbab yang dikenakannya membuat sosoknya lebih manis. Harry sendiri juga heran dengan dirinya sendiri, kenapa dia bisa begitu dalam jatuh cinta kepada Ayu, padahal mereka secara fisik tidak pernah bertemu, sama sekali tidak. Lho??

Iya, kemajuan dan kecanggihan teknologi telah mempertemukan mereka. Harry dan Ayu sama-sama penggila internet. Secara tidak sengaja mereka bertemu dan berkenalan di sebuah chat room. Dari sekedar basa-basi, percakapan mereka nyambung terus. Mereka biasa membicarakan apa saja, dan lama kelamaan mereka merasa begitu dekat satu sama lain. Setelah sekian lama, dari seringnya mereka komunikasi, entah siapa yang memulai tiba-tiba saja mereka merasa saling membutuhkan, saling jatuh cinta. Merekapun bertukar foto untuk melengkapi kedekatan mereka. Harry mempunyai belasan foto-foto Ayu dalam berbagai pose. Dari foto-foto itulah Harry makin terpesona terhadap sosok Ayu.

********

 Harry menghembuskan nafas dengan lega. Setelah melalui perjalanan panjang yang cukup melelahkan selama beberapa hari, akhirnya sampailah dia di kota kembang.  Tubuhnya serasa begitu penat dan letih, tapi membayangkan akan segera bertemu dengan kekasih hatinya, membuat semua kelelahannya terasa sirna. Harry tersenyum sendiri.

“Kekasih hatiku..., aku datang untuk menjemputmu,” bisiknya dalam hati.

Harry langsung menuju alamat Ayu yang telah diketahuinya. Di mata  Harry Ayu seorang gadis yang ulet dan pekerja keras, dia masih kuliah tetapi juga mengelola sebuah warnet dan tempat kost-an.

Harry memasuki warnet Ayu dengan menyamar sebagai user. Dia ingin membuat kejutan untuk Ayu. Memang, dia tidak mengatakan dengan jelas hari kedatangannya. Setelah berbasa-basi dengan operator warnet, Harry dapat informasi bahwa Ayu belum pulang kuliah. Harry pun menunggu sambil surfing di internet. Kira-kira pukul 21.00, seorang gadis mendekati tempat duduknya. Ayu!!. Harry terkesima memandang Ayu yang begitu penuh pesona.

“Bang Harry….,” Ayu memanggilnya dengan suara lembut dan senyum manis. Mereka saling bertatapan. Setelah sekian lama berkasih-kasihan di dunia maya, kini mereka berada di dunia nyata.

“Ayu…akhirnya engkau kini berada di sisiku”, Harry bergumam, sambil menatap lekat sang kekasih.

Bisa dibayangkan, bagaimana sukacitanya mereka, bagaimana bahagianya mereka. Malam itu mereka begitu lengket, seakan tak mau dipisahkan lagi. Mereka ngobrol sampai hampir subuh, melepas kerinduan yang terpendam sekian lama. Mereka bercumbu…dan lupa segalanya. Mereka lupa…bahwa cumbuan yang mereka lakukan sudah melewati batas. Tapi, mana mungkin mereka perduli dan mana mungkin ingat dengan rambu-rambu jika sedang dimabuk cinta? Mereka menerobos semua rambu yang ada, dan merekapun menikmati manisnya cinta hingga subuh menjelang.

Keesokan harinya, hari pertama kebersamaannya dengan Ayu, siang itu, Harry melihat sesuatu yang lain pada Ayu. Untuk pertama kalinya, Harry meragukan perasaan Ayu terhadap dirinya.

“Ohhh…kenapa dengan diriku? Mengapa sikap Ayu terlihat aneh dimataku?”

Lamunan Harry terputus ketika Ayu muncul dihadapannya dengan seorang pria.

“Bang Harry, kenalkan ini Mas Agus teman Ayu,” kata Ayu dengan enteng, kemudian lanjutnya, “Abang tunggu Ayu  disini yah, Ayu mau keluar dulu dengan Mas Agus.”

Kemudian tanpa menunggu jawabannya, Ayu langsung pergi sambil menggandeng tangan Agus dengan mesranya.

Harry terpana. Inikah Ayu…kekasih hatinya itu?

Malam hari Ayu baru pulang, dan sikapnya wajar-wajar saja, kemudian dengan mesranya, dengan penuh kemanjaan dia menemui Harry…dan kejadian malam sebelumnya terulang lagi. Malam itu Harry betul-betul tenggelam dalam pesona ragawi Ayu, mereguk manisnya cinta yang seharusnya belum boleh mereka lakukan.

“Bang Harry, Ayu mau cerita sesuatu ama abang,” Ayu membuka percakapan.

“Cerita apa, sayang?”

“Tapi, abang janji yah….tidak akan marah atau kecewa setelah mendengar cerita Ayu?” kata Ayu dengan suara merajuk nan manja.

Harry tersenyum sambil membelai rambut Ayu, “Tentu saja tidak, sayangku… kenapa abang harus marah?”

“Abang janji tidak akan meninggalkan Ayu setelah mendengar ceritaku?”

“Sayang, abang tidak pernah menarik kembali kata-kataku. Abang sudah berjanji akan memperistrimu, dan tentu saja abang tidak akan meninggalkanmu, apapun adanya kamu, sayang” kata Harry sambil mengecup kening Ayu dengan lembut.

“Bang, Ayu sebenarnya sudah pernah menikah….,” kata Ayu dengan lirih.

Selirih apapun suara Ayu, tetapi bagi Harry bagaikan suara halilintar yang menghantam genderang telinganya. Harry menatap Ayu dalam-dalam dan berkata dengan lirih, “Benarkah?”

“Iyah, Bang, tapi kami sudah lama berpisah, dan kami juga mempunyai seorang anak,” jawab Ayu pelan.

Harry menarik nafas panjang. Dia agak menyesal juga karena Ayu baru menceritakan hal ini. Tetapi Harry adalah orang yang konsekuen dan pegang janji.

Kemudian katanya, “Ayu, apapun adanya dirimu abang akan menerima dengan lapang dada, dan menganggap itu adalah bagian dari masa lalumu.”

Ayu terisak dan memeluk erat Harry sambil berkata, “Abang, terima kasih…. Abang memang orang yang teramat baik.”

Sejenak kemudian mereka terlelap sambil berpelukan.

**********

 Keesokan paginya, Ayu pamitan mau kuliah...dan dijemput oleh seorang pria. Agus! Harry melihat dengan jelas kemesraan mereka berdua. Terlihat dengan jelas bahwa mereka berdua bukan sekedar teman biasa. Sebodoh apapun orangnya, melihat kemesraan mereka, orang pasti langsung tahu bahwa ada hubungan khusus diantara mereka. Harry tercenung. Tiba-tiba pikiran aneh yang pernah muncul di hari pertama pertemuannya dengan Ayu muncul lagi.

“Benarkah Ayu mencintaiku, seperti aku mencintainya? Kalau iya, kenapa dia bisa bermesra-mesraan begitu dengan orang lain, tepat di depan mataku?” Harry merasa begitu heran dan tidak habis mengerti. Keesokan harinya, Harry dipaksa lagi untuk melihat kemesraan mereka. Harry tidak percaya bahwa Ayu bisa bersikap seperti itu.

“Mimpikah aku? Dimanakah aku berada? Di dunia nyata atau hanya mimpi?”

Selama seminggu tinggal di tempat Ayu dan selama itu pula Harry selalu disuguhi pemandangan seperti itu.

“Ya, Tuhan...aku tidak tahan lagi. Inikah calon istriku, yang kukejar dari jauh sampai meninggalkan segalanya di kota kelahiranku? Meninggalkan orang tua dan seluruh keluargaku? Tidak...aku harus mengambil keputusan sekarang juga!” tekad Harry.

Malam harinya, saat Ayu pulang kuliah, Harry langsung mengutarakan perasaannya, keheranan dan keanehan sikap Ayu.

Ayu menjawab dengan enteng, “Bang, inilah Ayu...bukankah abang pernah mengatakan akan menerima Ayu dengan apa adanya?”

Harry tercengang mendengar jawaban Ayu, kemudian katanya, “Ayu, aku sudah cukup gila mengejarmu kesini dengan mengorbankan segalanya...tapi, aku tidak cukup gila kalau harus mengorbankan masa depanku juga!”

Harry menyesali dirinya yang bisa terperangkap oleh pesona Ayu lewat dunia maya, dunia internet. Iyaa...dan dia mendapatkan pengalaman pahit sekaligus  amat berharga bahwa orang-orang di dunia internet tidaklah selamanya jujur seperti dirinya.

Tapi, Harry tidak menyesal bahwa dia pernah jatuh cinta, dan pernah mencintai seorang gadis dengan amat besarnya, demikian tulusnya. Setidaknya dia pernah merasakan bagaimana rasanya mencinta. Walaupun cinta itu kini sirna sudah karena terhapus oleh perilaku dan sikap Ayu sendiri.

Meski kecewa yang teramat sangat akan sikap Ayu, Harry tidak kehilangan semangat untuk mengejar cita-citanya yang kedua. Cita-citanya yang pertama yaitu melamar dan menikahi Ayu kandas sudah, cita-citanya yang kedua adalah melanjutkan kuliah. Di Medan Harry sudah menyelesaikan Diploma 3 tahunnya di jurusan Informatika dan Teknologi, dan dia kini ingin meraih jenjang S1.

“Setidaknya saat aku pulang ke Medan nanti tidaklah dengan tangan hampa”, gumam Harry dengan getir.

Belakangan Harry baru tahu bahwa ternyata Ayu adalah penganut gaya hidup bebas, free sex,  bergelimang di dunia gelap malam dengan segala atributnya, menebar pesona pada setiap pria. Dan...Harry merasa dirinya begitu bodoh karena dia sangat percaya dengan kata-kata lembut Ayu selama ini di setiap chating mereka. Harry sangat percaya dengan penampilan luar Ayu yang nampak sangat religius dan begitu innocent. Ya, Tuhan...jilbab yang dikenakan Ayu ternyata hanyalah sebuah kedok belaka....

Hmm...dunia maya tak selalu indah seperti bayangannya.

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini
Sat, 04 Dec 2010 01:09:00 -0800 Lagi down... http://desak.posterous.com/lagi-down http://desak.posterous.com/lagi-down

Hari ini, hari ke empat bolos kerja, bukan karena malas tapi karena anak sakit. Kalau anak sakit semua agenda kacau balau. Konsentrasi penuh pada anak membuat yang lainnya terbengkalai. Anak semata wayang saya, kalau sedang sakit saya harus selalu ada di sampingnya.

Memang hari itu suhu tubuhnya membuat saya sangat khawatir, 40 derajat. Walaupun dalam hati panik, tapi saya berusaha terlihat tenang. Sebab kalau saya kelihatan panik, suami akan dua kali panik. Apalagi si anak. Jadi, di depan anak saya kelihatan sangat tenang dan selalu mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja, hanya panas biasa kok. Setiap saat, siang malam saya memantau suhu tubuhnya, mengompresnya disamping minum obat tentunya. Saya hampir tidak tidur agar selalu bisa memantaunya.

Syukurlah, hari ini kondisinya sudah membaik. Tetapi saya tetap belum berani meninggalkannya. Mulai dari sakit dia memohon-mohon supaya saya tidak meninggalkan dia untuk kerja. Dan saya sendiri pun pasti juga tidak akan tenang meninggalkan rumah selama kondisinya belum normal. Hari ini kondisinya sudah nampak mulai normal. Saya bisa bernafas lega kini. Hanya saja, sekarang saya merasa agak down. Bukan sakit, tapi betul-betul tidak kepingin melakukan apa pun. Ngga mood. Dibawa tidur, ngga mau, karena tidak ngantuk. Dibawa membaca, otak males berpikir.

Wah, gawat ini...ini tidak bisa dibiarkan berlanjut. Ada beberapa hal yang harus dikerjakan, tapi otak benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Akhirnya, saya hanya browsing-browsing ngga jelas. Tapi ada satu hal yang membuat saya cukup semangat yaitu baca-baca milis, membongkar arsip di milis dan membaca utas-utas yang menarik, perdebatan di milis, komen-komen yang terkadang lucu dan membuat saya tersenyum sendiri. Kemudian saya mencoba menulis di blog ini untuk memancing otak supaya kembali "normal" :-)

Ayoo....semangatlah, banyak hal yang harus dikerjakan!.

 

 

Permalink | Leave a comment  »

]]>
http://files.posterous.com/user_profile_pics/1437844/266689_1924832478362_1168633796_31766663_4309547_o__1_.jpg http://posterous.com/users/5ewZyuZDe6d3 Desak Pusparini Desak Desak Pusparini