Suatu Pagi di Lapangan Renon Denpasar
Hari itu saya mengantar anak olah raga di lapangan Renon, karena setelah olah raga langsung ke sekolah, saya menungguinya. Sambil nunggu saya ikut olah raga. Lumayan, dapat lari (tepatnya: jalan cepat) dua kali putaran. Setelah capek, saya istirahat ke pinggir lapangan dan ngobrol dengan Bapak Tukang Parkir yang juga sedang santai, karena anak-anak sekolah yang sedang olah raga belum bubaran.
Setelah basa-basi sejenak, saya membuka obrolan dengan menanyakan di mana lokasi kejadian kecelakaan kemarin subuh yang menewaskan dua orang pelajar SMP. Sebelumnya saya sudah mendengar berita bahwa kemarinnya terjadi kecelakaan tunggal yang mengenaskan di dekat lapangan Renon ini. Sebuah mobil yang ditumpangi oleh tiga siswa SMP, menabrak pohon pelindung di pinggir jalan dengan kecepatan tinggi. Badan mobil terpotong jadi dua bagian, dan dua penumpangnya yang duduk di depan (termasuk yang menyetir) meninggal seketika. Yang satu lagi duduk di jok belakang selamat dan masih terikat erat sabuk pengaman, luka-luka tapi tidak terlalu parah. Sebuah keajaiban. "Lokasinya di sebelah sana, Bu. Tadi ibu mungkin melewatinya, tapi tidak ngeh ya karena memang tidak ada kerusakan yang berarti di pohon itu.", kata Bapak itu sambil menunjuk ke sebuah arah. Menurut Bapak itu, di TKP tidak kelihatan tanda-tanda bahwa pernah ada kecelakaan mengerikan di sana. Saat itu saya terbayang dengan perasaan duka mendalam yang dirasakan oleh orang tua ke dua anak itu. Di tengah percakapan kami, ada dua orang lagi yang juga sedang menunggui anaknya ikut nimbrung. Percakapan makin ramai dan sebagian besar menyesalkan sang orang tua yang memberikan kebebasan kepada anaknya yang baru duduk di bangku SMP untuk membawa mobil. Semua pihak termasuk pihak berwenang sangat menyayangkan dan menyesali kejadian ini. Seperti dimuat di beberapa media, diberitakan bahwa si pengendara mobil duduk di kelas III di sebuah SMP favorit dan rencananya beberapa hari ke depan akan berangkat ke Singapura untuk pertukaran pelajar. Di sekolahnya anak itu memang dikenal cerdas dan supel. Menurut berita yang beredar, sebenarnya anak itu sudah cukup lama bisa nyetir, dan sudah biasa nyetir, tetapi mobil yang biasa dibawanya adalah Alphard. Sedangkan mobil yang dikendarainya saat kejadian adalah mobil matic (kalau tidak salah Suzuki), milik temannya. Diduga, dia tidak biasa membawa mobil matic yang ringan sehingga lepas kontrol.Saat kejadian orang tuanya sedang berada di luar negeri untuk urusan pekerjaan, dan beberapa jam sebelum kejadian si anak dan orangtuanya sempat telpon-telponan. Sebagai orang tua, saya tak mampu membayangkan bagaimana hancur perasaan orang tua anak itu. Saya hanya bisa berdoa dalam hati semoga orang tua dan keluarganya diberikan ketabahan yang luar biasa, dan si anak diberikan ketenangan di sisi-Nya.