Tak Selalu Indah

Dunia internet menyisakan banyak cerita. Salah satu diantaranya adalah cerita di bawah ini. Semua tokoh yang ada dalam cerita ini adalah nyata. Kisah ini diceritakan oleh tokoh Harry kepada saya (Harry salah satu sahabat saya). Dan saya menceritakan kembali kisah mereka dengan bahasa sendiri, tetapi isinya sama sekali tidak ada modifikasi.

*****

Harry sudah mengambil keputusan. Tekadnya bulat sudah untuk  meninggalkan kota kelahirannya tercinta menuju kota kembang. Di kota ini ada Ayu gadis pujaannya, yang siap menjadi istrinya. Ada 2 keinginan terbesarnya menuju kota kembang adalah pertama untuk melamar dan menikahi Ayu serta kedua untuk melajutkan kuliahnya, yang tinggal penyesuaian saja dari D3 ke jenjang S1.

Sebenarnya di Medan, Harry sudah mempunyai pekerjaan yang mapan, dan hidup di tengah keluarga yang begitu mencintainya. Sebagai anak bungsu dari 8 bersaudara, Harry memang menjadi anak kesayangan. Tetapi hari ini Harry telah membuat kesal dan kecewa seluruh keluarganya, ketika dia mengutarakan niatnya untuk berhenti dari pekerjaannya dan pergi jauh.

Walau demikian, keputusannya telah bulat dan pasti, dia akan menemui Ayu, gadis yang telah membuatnya jatuh cinta, benar-benar jatuh cinta. Menyebut nama Ayu, membuat dadanya bergetar. Terbayang wajah Ayu yang lembut,  lugu dan manja, begitu imut dan menggemaskan. Jilbab yang dikenakannya membuat sosoknya lebih manis. Harry sendiri juga heran dengan dirinya sendiri, kenapa dia bisa begitu dalam jatuh cinta kepada Ayu, padahal mereka secara fisik tidak pernah bertemu, sama sekali tidak. Lho??

Iya, kemajuan dan kecanggihan teknologi telah mempertemukan mereka. Harry dan Ayu sama-sama penggila internet. Secara tidak sengaja mereka bertemu dan berkenalan di sebuah chat room. Dari sekedar basa-basi, percakapan mereka nyambung terus. Mereka biasa membicarakan apa saja, dan lama kelamaan mereka merasa begitu dekat satu sama lain. Setelah sekian lama, dari seringnya mereka komunikasi, entah siapa yang memulai tiba-tiba saja mereka merasa saling membutuhkan, saling jatuh cinta. Merekapun bertukar foto untuk melengkapi kedekatan mereka. Harry mempunyai belasan foto-foto Ayu dalam berbagai pose. Dari foto-foto itulah Harry makin terpesona terhadap sosok Ayu.

********

 Harry menghembuskan nafas dengan lega. Setelah melalui perjalanan panjang yang cukup melelahkan selama beberapa hari, akhirnya sampailah dia di kota kembang.  Tubuhnya serasa begitu penat dan letih, tapi membayangkan akan segera bertemu dengan kekasih hatinya, membuat semua kelelahannya terasa sirna. Harry tersenyum sendiri.

“Kekasih hatiku..., aku datang untuk menjemputmu,” bisiknya dalam hati.

Harry langsung menuju alamat Ayu yang telah diketahuinya. Di mata  Harry Ayu seorang gadis yang ulet dan pekerja keras, dia masih kuliah tetapi juga mengelola sebuah warnet dan tempat kost-an.

Harry memasuki warnet Ayu dengan menyamar sebagai user. Dia ingin membuat kejutan untuk Ayu. Memang, dia tidak mengatakan dengan jelas hari kedatangannya. Setelah berbasa-basi dengan operator warnet, Harry dapat informasi bahwa Ayu belum pulang kuliah. Harry pun menunggu sambil surfing di internet. Kira-kira pukul 21.00, seorang gadis mendekati tempat duduknya. Ayu!!. Harry terkesima memandang Ayu yang begitu penuh pesona.

“Bang Harry….,” Ayu memanggilnya dengan suara lembut dan senyum manis. Mereka saling bertatapan. Setelah sekian lama berkasih-kasihan di dunia maya, kini mereka berada di dunia nyata.

“Ayu…akhirnya engkau kini berada di sisiku”, Harry bergumam, sambil menatap lekat sang kekasih.

Bisa dibayangkan, bagaimana sukacitanya mereka, bagaimana bahagianya mereka. Malam itu mereka begitu lengket, seakan tak mau dipisahkan lagi. Mereka ngobrol sampai hampir subuh, melepas kerinduan yang terpendam sekian lama. Mereka bercumbu…dan lupa segalanya. Mereka lupa…bahwa cumbuan yang mereka lakukan sudah melewati batas. Tapi, mana mungkin mereka perduli dan mana mungkin ingat dengan rambu-rambu jika sedang dimabuk cinta? Mereka menerobos semua rambu yang ada, dan merekapun menikmati manisnya cinta hingga subuh menjelang.

Keesokan harinya, hari pertama kebersamaannya dengan Ayu, siang itu, Harry melihat sesuatu yang lain pada Ayu. Untuk pertama kalinya, Harry meragukan perasaan Ayu terhadap dirinya.

“Ohhh…kenapa dengan diriku? Mengapa sikap Ayu terlihat aneh dimataku?”

Lamunan Harry terputus ketika Ayu muncul dihadapannya dengan seorang pria.

“Bang Harry, kenalkan ini Mas Agus teman Ayu,” kata Ayu dengan enteng, kemudian lanjutnya, “Abang tunggu Ayu  disini yah, Ayu mau keluar dulu dengan Mas Agus.”

Kemudian tanpa menunggu jawabannya, Ayu langsung pergi sambil menggandeng tangan Agus dengan mesranya.

Harry terpana. Inikah Ayu…kekasih hatinya itu?

Malam hari Ayu baru pulang, dan sikapnya wajar-wajar saja, kemudian dengan mesranya, dengan penuh kemanjaan dia menemui Harry…dan kejadian malam sebelumnya terulang lagi. Malam itu Harry betul-betul tenggelam dalam pesona ragawi Ayu, mereguk manisnya cinta yang seharusnya belum boleh mereka lakukan.

“Bang Harry, Ayu mau cerita sesuatu ama abang,” Ayu membuka percakapan.

“Cerita apa, sayang?”

“Tapi, abang janji yah….tidak akan marah atau kecewa setelah mendengar cerita Ayu?” kata Ayu dengan suara merajuk nan manja.

Harry tersenyum sambil membelai rambut Ayu, “Tentu saja tidak, sayangku… kenapa abang harus marah?”

“Abang janji tidak akan meninggalkan Ayu setelah mendengar ceritaku?”

“Sayang, abang tidak pernah menarik kembali kata-kataku. Abang sudah berjanji akan memperistrimu, dan tentu saja abang tidak akan meninggalkanmu, apapun adanya kamu, sayang” kata Harry sambil mengecup kening Ayu dengan lembut.

“Bang, Ayu sebenarnya sudah pernah menikah….,” kata Ayu dengan lirih.

Selirih apapun suara Ayu, tetapi bagi Harry bagaikan suara halilintar yang menghantam genderang telinganya. Harry menatap Ayu dalam-dalam dan berkata dengan lirih, “Benarkah?”

“Iyah, Bang, tapi kami sudah lama berpisah, dan kami juga mempunyai seorang anak,” jawab Ayu pelan.

Harry menarik nafas panjang. Dia agak menyesal juga karena Ayu baru menceritakan hal ini. Tetapi Harry adalah orang yang konsekuen dan pegang janji.

Kemudian katanya, “Ayu, apapun adanya dirimu abang akan menerima dengan lapang dada, dan menganggap itu adalah bagian dari masa lalumu.”

Ayu terisak dan memeluk erat Harry sambil berkata, “Abang, terima kasih…. Abang memang orang yang teramat baik.”

Sejenak kemudian mereka terlelap sambil berpelukan.

**********

 Keesokan paginya, Ayu pamitan mau kuliah...dan dijemput oleh seorang pria. Agus! Harry melihat dengan jelas kemesraan mereka berdua. Terlihat dengan jelas bahwa mereka berdua bukan sekedar teman biasa. Sebodoh apapun orangnya, melihat kemesraan mereka, orang pasti langsung tahu bahwa ada hubungan khusus diantara mereka. Harry tercenung. Tiba-tiba pikiran aneh yang pernah muncul di hari pertama pertemuannya dengan Ayu muncul lagi.

“Benarkah Ayu mencintaiku, seperti aku mencintainya? Kalau iya, kenapa dia bisa bermesra-mesraan begitu dengan orang lain, tepat di depan mataku?” Harry merasa begitu heran dan tidak habis mengerti. Keesokan harinya, Harry dipaksa lagi untuk melihat kemesraan mereka. Harry tidak percaya bahwa Ayu bisa bersikap seperti itu.

“Mimpikah aku? Dimanakah aku berada? Di dunia nyata atau hanya mimpi?”

Selama seminggu tinggal di tempat Ayu dan selama itu pula Harry selalu disuguhi pemandangan seperti itu.

“Ya, Tuhan...aku tidak tahan lagi. Inikah calon istriku, yang kukejar dari jauh sampai meninggalkan segalanya di kota kelahiranku? Meninggalkan orang tua dan seluruh keluargaku? Tidak...aku harus mengambil keputusan sekarang juga!” tekad Harry.

Malam harinya, saat Ayu pulang kuliah, Harry langsung mengutarakan perasaannya, keheranan dan keanehan sikap Ayu.

Ayu menjawab dengan enteng, “Bang, inilah Ayu...bukankah abang pernah mengatakan akan menerima Ayu dengan apa adanya?”

Harry tercengang mendengar jawaban Ayu, kemudian katanya, “Ayu, aku sudah cukup gila mengejarmu kesini dengan mengorbankan segalanya...tapi, aku tidak cukup gila kalau harus mengorbankan masa depanku juga!”

Harry menyesali dirinya yang bisa terperangkap oleh pesona Ayu lewat dunia maya, dunia internet. Iyaa...dan dia mendapatkan pengalaman pahit sekaligus  amat berharga bahwa orang-orang di dunia internet tidaklah selamanya jujur seperti dirinya.

Tapi, Harry tidak menyesal bahwa dia pernah jatuh cinta, dan pernah mencintai seorang gadis dengan amat besarnya, demikian tulusnya. Setidaknya dia pernah merasakan bagaimana rasanya mencinta. Walaupun cinta itu kini sirna sudah karena terhapus oleh perilaku dan sikap Ayu sendiri.

Meski kecewa yang teramat sangat akan sikap Ayu, Harry tidak kehilangan semangat untuk mengejar cita-citanya yang kedua. Cita-citanya yang pertama yaitu melamar dan menikahi Ayu kandas sudah, cita-citanya yang kedua adalah melanjutkan kuliah. Di Medan Harry sudah menyelesaikan Diploma 3 tahunnya di jurusan Informatika dan Teknologi, dan dia kini ingin meraih jenjang S1.

“Setidaknya saat aku pulang ke Medan nanti tidaklah dengan tangan hampa”, gumam Harry dengan getir.

Belakangan Harry baru tahu bahwa ternyata Ayu adalah penganut gaya hidup bebas, free sex,  bergelimang di dunia gelap malam dengan segala atributnya, menebar pesona pada setiap pria. Dan...Harry merasa dirinya begitu bodoh karena dia sangat percaya dengan kata-kata lembut Ayu selama ini di setiap chating mereka. Harry sangat percaya dengan penampilan luar Ayu yang nampak sangat religius dan begitu innocent. Ya, Tuhan...jilbab yang dikenakan Ayu ternyata hanyalah sebuah kedok belaka....

Hmm...dunia maya tak selalu indah seperti bayangannya.

 

| Viewed
times

0 Comments

Leave a comment...